Medium? Gak Dulu

· #teknologi #rant

Ini sudah 2024 dan saya mulai melihat banyak pengguna mainstream beralih ke Medium sebagai platform menulis. Jarang banget saya ngelihat orang awam pakai Blogspot atau Wordpress. Apalagi static site generator macam hugo, zola, jekyll, dan lain-lain.

Jika anda bertanya dengan saya, “mengapa saya masih konsisten ngeblog di server sendiri dan ala-ala do it yourself yang ribet itu?”

Saya hanya nyaman dan paham dengan cara yang saya lakukan sekarang. Entah tidak ada rasa untuk migrasi ke centralized writing platform (medium, wordpress.com, blogspot).

Pengalaman yang buruk dengan Medium menjadi motivasi.

Bayangkan saja anda membaca artikel di Medium lalu disuguhkan banner besar yang mengganggu. Tentu saja masalah akan selesai jika anda login (katanya). Tapi ya masa iya baca aja harus login gak kayak blog lain. Juga kadang-kadang dipaksa login untuk membaca artikel penuhnya.

Tapi ya ini PoV dari orang yang gak awam (katanya). Kalau ngelihat dari PoV orang awam yang gak mau ribet ya beda lagi. Medium cuman plug and play doang ga perlu lama.

Tapi ya kalau gini terus ya ngegiring ke lingkaran setan layaknya paragraf 5.

Saya juga gak ngehina orang yang pakai Medium sih. Cuman kalau disuruh baca di Medium ya saya biasa pakai alternative frontend medium macam scribe dan tidak akan membaca tanpa itu.

Pertanyaan atau tanggapan? email saya.