Telah datang gaya hidup buruk yang menghantui dunia, khususnya Indonesia. Dimana gaya hidup menormalisasikan hal – hal yang kita anggap buruk. Beberapa akun sosial media turut menyebarkan.
Mereka ingin Anda lemah, rapuh, bangkrut, kecanduan, dan depresi karena ini adalah orang-orang yang mudah dikendalikan. Dan bagaimana mereka melakukannya? Dengan menormalkan semua ini.
Jika Anda menjalani kehidupan yang kurang optimal, carilah jawaban daripada menerima keberadaan yang biasa-biasa saja. Anda tidak akan tahu seperti apa sebenarnya hidup 100% sampai Anda mulai menjalani kehidupan seperti itu.
Terus terang saya menolak dan melawan, tetapi orang menganggap bahwa saya terlalu keras. Apakah mereka yang benar atau diriku yang salah?
Menjadi gemuk atau obesitas bukanlah hal normal.
Anda bisa melihat opini menormalisasikan kegemukan di akun instagram ini
Mudah anda menjumpai orang gemuk dan obesitas di sekitar. Orang – orang dengan badan besar (bukan kekar), ada juga yang kulitnya berlapis – lapis karena terlalu gemuk.
Kemudahan orang gemuk dan obesitas buah dari gaya konsumerisme yang terlalu mengonsumsi daripada bergerak sehingga penuhlah tubuh itu dengan lemak – lemak.
Jika masyarakat dulu menganggap gemuk dan obesitas adalah salah, sehingga harus dibenarkan. Itu tidak berlaku untuk sekarang, masyarakat (terutama anak muda) menormalisasikan kesalahan itu.
Padahal kegemukan dan obesitas melahirkan penyakit – penyakit, seperti Jantung, Stroke, Diabetes, dan lain – lain. Juga kegemukan menyusahkan kita dalam bergerak dan beraktivitas, dibandingkan orang dengan berat badan normal.
Facts Don’t Care About Your Feelings
Entah kenapa hal ini dinormalisasikan? Apakah masyarakat kita terlalu memikirkan perasaan, sehingga lupa keberadaan fakta?
Untuk anda yang ingin berubah, mulailah membiasakan bergerak. Mungkin jalan kaki menikmati pemandangan, olahraga lari, push up, dan lain – lain. Berat badan ideal lebih baik daripada obesitas.
Depresi Tidaklah Normal.
Banyak orang, termasuk teman saya, stress dan kesehatan mentalnya terganggu. Saya bingung, apakah gaya hidupnya salah atau kehidupan modern yang terlalu berat?
Mengejutkannya, kebanyakan dari mereka malah bangga, nyaman, suka, atau menormalisasikan depresi itu. Tidaklah salah jika ada yang menyebut tren depresi.
Padahal penyakit depresi sangat berat. Kalau tidak disembuhkan bisa berakibatkan fatal, salah satunya kematian akibat bunuh diri. Tapi entahlah, mengapa sebagian millenial menormalisasikan ini?
Jika anda membutuhkan cara menghindari depresi, mulailah membiasakan berpikir jernih, mengobrol bersama teman – teman, dan kegiatan positif lainnya.
Merasa Seperti Tidak Berguna Setiap Hari Tidaklah Normal.
Merasa seperti tidak berguna adalah femonema yang sedang terjadi di Milenial. Mereka bingung makna dan tujuan hidup, karena tidak mampu memberikan dan mengerjakan suatu hal. Akhirnya mereka berpikir tentang manfaat, tujuan, dan eksistensi mereka.
Jika anda di posisi ini, hentikan dan berubah. Mulailah melakukan aktivitas, entah menulis, belajar, membantu orang, dan lain – lain.
Mengonsumsi Obat – Obatan Tidaklah Normal
Beberapa orang menormalisasi penggunaan obat-obatan guna mengurangi stress, ada juga yang meneggak hingga 10 pil. Padahal penggunaan obat berlebihan justru menyebabkan penyakit dan kecanduan.
Mulailah berhenti mengonsumsi obat – obatan dan perbanyak makanan sehat.
Kesimpulan
Hentikan normalisasi keburukan di masyarakat, itu akan menjadi boomerang bagi kehidupan anda di masa depan.