Jumat Berkah Bersama Angkatan 23

3 Desember 2021 di Pucang, Surabaya

Selain memberi info, kami juga bagi – bagi makanan ke orang – orang. Mereka bahagia, kami gembira.

Berawal dari Diskusi Kakak Kelas

Beberapa waktu yang lalu, saya ikut diskusi antara Angkatan 22 dengan beberapa teman 23. Disitu kami berdiskusi tentang masalah angkatan yang tidak bersatu dan bersama. Katanya, angkatan 23 kurang raket. Saya dan teman – teman saya setuju. Angkatan 22 memberi saran untuk membuat kegiatan – kegiatan.

Dalam benak saya, kegiatan – kegiatan angkatan sudah dilakukan, misal Futsal Angkatan, Basket Angkatan, dan Jumat Berkah (Ini baru dilakukan hari ini). Tapi sayang sekali, yang ikut hanya itu – itu saja. Lalu salah siapa atas angkatan 23 yang kurang rapat? Kegiatan sudah dilaksanakan, kalau dari sananya memang malas dan tidak ingin ikut, berarti salah mereka yang malas.

Teman saya menyangkal atas opini saya, katanya ini bukan salah mereka dan ((saya lupa)). Saya tidak tahu, apakah saya yang salah atau mereka yang salah? Yang jelas saya cuman berharap angkatan 23 segera bersatu!

Akhirnya kami menentukan acara kegiatan, yaitu Jumat Berkah. Singkatnya Jumat Berkah adalah kegiatan berbagi makanan kepada orang – orang dijalanan, pasarnya sih becak, orang berjualan, pengemis, dan mereka yang sekiranya membutuhkan. Ini terinspirasi dari angkatan 22.

Persiapan

Kegiatan ini gak jelas awalnya. Kenapa? Karena jarang didiskusikan, sekali diskusi berhenti di tengah jalan. Saya takut kalau kegiatan ini jadi bualan atau ngomong tok. Apalagi saya yang nyebar edarannya di grup angkatan. Mukaku dimana kalau ndak jadi nanti 🤣?

Langsung Bergerak!

Besok pagi setelah Ulangan Akhir Semester, kami langsung ke Pucang naik mobilnya Bimo. Ketika sudah di Jalan Biliton, ternyata uangnya ketinggalan.

Wasuuuu, goblokk!!!! Wes sampe kene malah duit’e gak digowo. Yaopo lek wes nak penjual e engkuk? Pas wes mesen kabeh plonga plongo ga onok duit’e

Semua ketawa karena konyol banget. Tapi gapapa biar jadi kenangan di lain hari.

Ternyata pendagangnya udah pulang setelah kami sampai. Yaudah terpaksa kami mencari lagi di daerah Pucang & Kertajaya.

“Lha mang isuk wonge dodolan nak kene kok.” katanya Daffa.

“Yoooo wes muleh lha cokkk“, dibalas sama siapa gitu, lupa yang bilang gitu.

Untung saja kami ketemu pendagang yang masih jualan. Langsung deh kita beli 50 makanan, yang berarti kita borong. Pedagangnya senang dan berterima kasih kepada kami.

Kami berhenti di Aiola sebagai tempat berkumpul. Saat disana kami diam yang mengakibatkan waktunya terlambat, yang aslinya jam 13.00 berubah menjadi 14.00. Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Setelah berdiskusi soal rute, kami sepakat memilih daerah Pucang. Saya tidak tahu kenapa memilih daerah situ, padahal di daerah Pacarkeling lebih enak. Akhirnya berangkatlah kami menuju TKP.

Saat pembagian dibuat tim dan memencar, saya membagikan bersama Ihsan, Deandra, dan Davin. Waktu membagikan, saya memberi tukang becak, tukang tambal ban, tukang parkir, dan pendagang.

Bagian daerah kami sangatlah kecil, sehingga kami memutuskan masuk ke suatu gang. Selain mencari orang baru, jalan itu dianggap terobosan ke parkiran mobil kami.

“Iyo lurus ae iki, tembus’o nak parkiran“, kata Davin.

Berjalan demi langkah, tak sangka pagar parkiran mobil dikunci. Ada juga teman – teman disitu.
“Lapo nak kono? Ati ati iki gang setan“, kata Nigel.
“Ha gang setan?“, tanya ku.
“Iyo, onok asu’ne nak kunu“, jawab Nigel.

Davin, Ihsan, dan Deandra sedikit ketakutan. Saya coba nenangin sambil bilang, “Wes’a, gak onok opo opo, santai ae.“.

Kabar baiknya ternyata tidak ada anjing selama perjalanan, kabar buruknya jalannya ditutup juga sehingga memaksa kami putar balik.

Dan akhirnya setelah kembali ke parkiran, acara kami selesai dan dilanjutkan berfoto ria.

Bagikan: