Saya realis, artinya melihat hal nyata tanpa tambahan atau pengurangan.
Berarti cara pandang dan berpikir berdasarkan yang terjadi. Itulah mengapa berulang kali saya dibilang kaku, pesimis, dan optimis.
Syukur bisa menjadi anak muda realis ditengah idealis.
Karena katanya anak muda terbiasa idealis disebabkan mulai mampu berpikir, misal politik, ekonomi, dan lain – lain
Kenapa Saya Realis?
Sebagian orang muak dengan kalimat – kalimat dongeng, salah satunya semua orang itu cakep dan tidak ada yang jelek.
Dan mereka mulai menerapkan di dunia nyata dengan kalimat terus. Sayangnya tidak selalu lurus, sehingga timbul rasa kecewa.
Saya adalah salah satu orang yang pernah dikecewakan narasi dongeng.
Menjadi Realis Sangatlah Menyenangkan
Realisme membawa perubahan menjadi lebih baik. Semua terasa mudah, bagi saya.
Saya mulai belajar mau menerima kenyataan yang terjadi, tanpa tambahan atau kurangan.
Saya mulai belajar bagaimana merasakan kebahagiaan.
Saya mulai tahu bagaimana mengerti kekurangan atau hal yang tidak saya sukai.
Contoh
Seseorang berargumen bahwa kita gak cakep, kemudian anda sibuk mencari penangkal argumen.
Kabar baiknya anda menemukan penangkalnya, tetapi buruknya tidak semua orang mau menerimanya karena kenyataanya anda memang buruk!
Kemudian anda sedih, muak, dan lalu stress. Anda menyalahkan Tuhan kenapa menciptakan wajah anda yang gak cakep.
Sebagai Realis, saya memilih tindakan berbeda..
Saya mau menerima dan mengakui argumen tersebut, bahwa gak cakep.
Saya tidak akan menyangkal dia dengan “semua orang itu cakep, gak ada yang jelek.”
Saya bakal menambah skill pribadi karena sudah tahu gak cakep, masa pasrah?
Jadi apa yang harus dilakukan?
Sederhana, anda harus mau melihat kenyataannya, meskipun itu buruk.