Satu Tahun Di Smala

Tidak terasa sudah satu tahun saya menjadi Smalane. Rasanya baru kemarin saya diterima di sekolah ini.

Tidak Rela

Saya masih belum rela waktu kelas 10 dihabiskan di rumah saja. Bukan karena kemalasan, melainkan peraturan pemerintah dan virus corona yang menghambat.
Tidak ada MOS, perkenalan siswa baru dengan lingkungan sekolah, dan acara sekolah lainnya. Rasanya menyebalkan sekali, padahal kegiatan – kegiatan itulah yang paling ditunggu.

Daring tidak menyenangkan.

Akhirnya pelajaran jarak jauh dilakukan setelah menjadi mimpi – mimpi. Sebagian orang bermimpi melakukan pembelajaran lewat rumah saja. Itu memudahkan, anda tidak tidak perlu ke luar, cukup di rumah saja.

Tapi teori tidak semudah aksi. Nyatanya para siswa, termasuk saya kewalahan dengan daring.

Selama saya daring, rasanya tidak nyaman menatap layar dalam waktu 3 jam lebih. Lalu tidak ada teman di sekililing saya yang bisa diajak mengobrol.

Organisasi, Proker, dan Kegiatan

Saya mengikuti proker – proker yang ada di sekolah, antara lain SETARA, SMALA CUP, dan Nouveau. Selain itu ada organisasi yang saya ikutin, cuman saya ndak berani nyebut namanya karena belum punya kontribusi apa – apa.

Dari situ saya belajar banyak bagaimana berkomunikasi, bekerja sama, menyelesaikan masalah, dan menuntaskan tugas. Karena kegiatan – kegiatan yang saya ikuti, saya selalu diajak mengikuti kegiatan lainnya. Disini juga saya berkenalan dengan orang – orang hebat lainnya.

Malu Jika Bodoh

Perasaan malu muncul ketika saya di SMA, padahal di SMP saya tidak pernah begini. Kadang kalau saya remidi pelajaran inti, saya malu dengan teman – teman yang tidak remidi.

-oo-
Berbicara soal pelajaran inti, dalam hati saya tidak bersedia menjadi anak IPA. Karena saya menyukai sejarah, IPS adalah habitat saya sesungguhnya.

Tapi sayang dunia tidak selalu tentang sekolah, konon katanya di masa depan, misal dunia kerja anak IPS lebih kesusahan daripada anak IPA. Selain itu, anak IPA bisa mendaftar jurusan IPS & IPA, tetapi anak IPS hanya dapat mendaftar jurusan IPS saja.

Pada akhirnya saya tidak bisa apa apa, semua sudah terlanjur. Pindah kelas? Ah itu sangat merepotkan.

Bagikan: