Cerita ini bermula selama saya di SMA. Sering sekali melihat teman saya banyak yang memilih diam meskipun dia paham.
Ada kalanya saya sebal dengan kelakuannya. Apakah saya yang benar atau mereka yang benar?
Awal Mula
Peristiwa seperti ini sudah banyak saya rasakan dan tidak terhitung. Salah satunya cerita ini.
Suatu hari teman saya ada yang bertanya di grup Whatsapp.
Rek ada yg ngefoto atau nulis struktur laporan biologi tahhh?
Pesan itu dikirim jam 12.00 siang. Karena saya tidak tahu, saya tidak menjawab.
Saya tunggu lama, sengaja untuk mengetes sikap teman – teman saya.
Akhirnya mendapat jawaban dari teman X. Beliau menjawab :
nggak mbakk
Saya menanti hingga jam 12.23, saya jawab pesannya sambil menandai si A & Si B untuk menjawab. Sayang sekali tidak ada yang membalas, bahkan si A yang saya tandai juga tidak.
Barulah satu hari setelahnya si B menanggapi dengan jawaban yang memuaskan.
Dalam hati saya batin, “cuih… iki kok meneng kabeh yo.. ga onok sing gelem bantu.“
Saya yakin di satu kelas minimal ada dua anak yang paham. Tapi, ya sudahlah..
Bisu Meskipun Tahu
Bukan hal asing menemukan fenomena ini. Tentang orang memilih bisu daripada bertutur meskipun tahu.
Apalah motivasi mereka melakukannya? Saya tidak mengetahui. Terkadang saya mencoba menerka :
- Apakah orang malas menjawab?
- Apakah takut dibilang “sok pintar”?
- Apakah tidak suka menjawab di grup langsung?
Peristiwa ini mengingatkan saya dengan perkataan Bu Retno, guru fisika di sekolah.
Guru Fisika saya pernah bilang jika Indonesia kalah dengan negara yang lain karena sebagian orang pintar memilih diam dan mementingkan dirinya sendiri, sedangkan orang pintar di negara lain lebih aktif dan berkreasi untuk negaranya.
Awas Dikuasai!
Jika orang – orang lebih memilih diam daripada bertindak, hati – hati suatu hari nanti akan mudah dikuasai oleh seseorang dengan tujuannya!