Beribu – ribu opini telah tertulis, apakah Indonesia berubah menjadi lebih baik setelahnya? Sayang sekali jawabannya tidak. Lalu jika beropini saja tidak merubah, apakah mending tidak usah beropini? Jawabannya juga tidak.
Baru saja kemarin saya membaca buku Selamat Tinggal karya Tere Liye. Serial ini adalah kembalinya saya ke Tere Liye setelah sekian lama tidak membacanya. Ada kutipan menarik di dalamnya.
Tulisan itu boleh jadi tidak akan dibaca oleh Tuan dan Nyonya. Atau kalupun Tuan dan Nyonya baca, hanya sekilas lalu, lantas dibuang, dijadikan bungkusan makanan saja. Tapi tidak masalah, karena Tuan dan Nyonya bukanlah sasaran tulisan itu. Buat apa? Tuan dan Nyonya sudah mati rasa.
Tapi jutaan anak muda di luar sana. Anak – anak kami, mereka akan membacanya. Maka tumbuh sudah rasa peduli di hati mereka. Masih kecil, hanya sebesar nyala lilin hari ini, besok lusa, saat nyala lilin itu terus dijaga, terus dirawat dengan tulisan berikutnya, berikutnya, ia bisa berubah menjadi kobaran api revolusi. Saat mereka berjanji akan mengubah negeri ini, menjadi lebih adil. Saat mereka siap menggantikan Tuan dan Nyonya, lantas menyingkirkan para oportunis dan penjilat.
Jadi jangan salah sangka, Tuan dan Nyonya. Tulisan itu untuk mereka, untuk anak – anak kami yang kelak akan lebih jujur, memiliki kehormatan, serta amat mencintai negeri ini.
Kesimpulan
Tetap beropini, namun jangan lupa bergerak sesuai opini.